LAPORAN AKHIR
PENGABDIAN KEPADA MASYRAKAT (PKM)
TAHUN PELAKSANAAN SEMESTER GENAP 2024/2025
ANALISIS MANAJEMEN
RISIKO SEBAGAI UPAYA
PENINGKATAN KETAHANAN USAHA PADA UMKM MARTABAK
PECENONGAN 78
Dosen Pengampu
Reniza Helena Putri, S.E., M.Si.
Anggota :
|
Claudia Bellenica |
(22412015) |
|
Dede Septiyani |
(22412034) |
|
Hany Sabrina |
(22412040) |
|
M. Ridho Al-farizi |
(22412032) |
|
Novilya M. Andini |
(22412017) |
|
Rizky Aldy |
(22412027) |
|
Sabila Rahmadani |
(22412037) |
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNISUNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
RINGKASAN
Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk membantu UMKM Martabak Pecenongan 78 dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola berbagai risiko usaha yang dihadapi, agar mampu meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan bisnisnya. Martabak Pecenongan 78 merupakan usaha kuliner populer di Kota Bandar Lampung, namun tetap menghadapi berbagai tantangan yang umum terjadi pada UMKM, seperti risiko operasional, pemasaran, teknologi, regulasi, hingga lingkungan.Melalui metode wawancara dan observasi langsung, tim berhasil mengidentifikasi sejumlah risiko kunci yang berpotensi mengganggu operasional, seperti ketergantungan pada tenaga kerja tertentu, perubahan tren pasar, gangguan teknis pada sistem pemesanan online, serta risiko banjir. Strategi mitigasi yang disarankan antara lain meliputi pelatihan lintas fungsi karyawan, inovasi menu, pencatatan transaksi manual sebagai cadangan, hingga penyesuaian operasional saat cuaca ekstrem.
Kegiatan ini memberikan dampak nyata berupa peningkatan kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya manajemen risiko yang sistematis. Martabak Pecenongan 78 menunjukkan komitmen dalam menerapkan strategi-strategi adaptif yang telah disampaikan. Dengan pendekatan partisipatif dan solutif, program ini diharapkan mampu menjadi model penerapan manajemen risiko yang dapat ditiru oleh UMKM lain guna meningkatkan daya tahan dan daya saing usaha mereka di tengah dinamika industri kuliner yang terus berkembang.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Analisa Situasi
UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah)
memegang peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,
menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peran ini semakin
menonjol di tengah kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian, di mana UMKM menjadi salah
satu penopang utama dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal. Tidak hanya di
sektor formal, tetapi juga pada sektor informal, UMKM turut menjadi penggerak
ekonomi yang menyentuh langsung lapisan masyarakat akar rumput. Namun demikian,
di balik kontribusinya yang besar, UMKM juga menghadapi berbagai tantangan
serius yang dapat menghambat perkembangan dan keberlanjutan usaha mereka.
Tantangan-tantangan tersebut mencakup
berbagai aspek, mulai dari keterbatasan modal, akses terhadap teknologi, hingga
kemampuan manajerial yang masih rendah. Di samping itu, risiko-risiko yang
timbul dari faktor internal dan eksternal seperti fluktuasi harga bahan baku,
persaingan pasar, perubahan regulasi, serta krisis ekonomi dan bencana alam
juga menjadi ancaman yang tidak dapat diabaikan. Dalam kondisi seperti ini,
banyak UMKM yang belum menyadari pentingnya langkah preventif dalam menghadapi
risiko. Akibatnya, mereka cenderung bersikap pasif dan tidak siap dalam
menghadapi situasi krisis.
Martabak Pecenongan 78 merupakan salah
satu contoh UMKM di bidang kuliner yang telah dikenal luas di kalangan
masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan. Dengan keunikan produk, strategi
lokasi yang strategis, dan loyalitas pelanggan yang cukup tinggi, usaha ini
memiliki potensi besar untuk terus
berkembang. Selain itu, brand lokal
ini juga menjadi
bagian dari identitas kuliner khas malam hari yang cukup dikenal di
daerahnya. Namun demikian, di balik keberhasilan tersebut, terdapat
risiko-risiko bisnis yang dapat mempengaruhi kinerja usaha jika tidak ditangani
secara serius. Risiko seperti keterlambatan pasokan bahan baku, penurunan daya
beli masyarakat, penurunan kualitas produk karena human error, serta
ketergantungan pada karyawan kunci
menjadi persoalan yang perlu diidentifikasi dan dikelola dengan baik.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan tim pengabdian, diketahui bahwa Martabak Pecenongan 78 masih belum menerapkan sistem manajemen risiko yang terstruktur dan terdokumentasi. Penanganan terhadap permasalahan bisnis lebih banyak bersifat reaktif dan bergantung pada intuisi pemilik usaha. Hal ini tentu menjadi perhatian, mengingat tanpa perencanaan risiko yang matang, usaha akan lebih rentan terhadap guncangan internal maupun eksternal yang dapat mengganggu kontinuitas operasional. Selain itu, kurangnya dokumentasi prosedur kerja dan sistem pengawasan juga berpotensi menimbulkan inkonsistensi dalam operasional sehari-hari.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat ini, dilakukan analisis terhadap risiko- risiko yang mungkin timbul dalam operasional Martabak Pecenongan 78. Analisis ini mencakup identifikasi, evaluasi, serta penyusunan strategi mitigasi yang sesuai dengan kapasitas dan karakteristik usaha. Langkah ini dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pelaku usaha secara langsung, agar solusi yang dihasilkan benar-benar aplikatif dan dapat diterapkan secara mandiri. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya membantu dalam mengurangi potensi kerugian, tetapi juga meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Selain itu, pelatihan dan pendampingan juga diberikan sebagai upaya membangun kesadaran dan keterampilan pelaku usaha dalam menerapkan prinsip manajemen risiko secara konsisten.
Dengan adanya intervensi melalui kegiatan pengabdian ini, diharapkan UMKM seperti Martabak Pecenongan 78 mampu bertransformasi menjadi usaha yang lebih adaptif, resilien, dan berdaya saing tinggi. Strategi penguatan manajemen risiko ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi UMKM lain dalam membangun fondasi usaha yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
1.2 Permasalahan UMKM
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik UMKM bahwa permasalahan yang sekarang sedang terjadi yaitu :
1. Martabak Pecenongan 78 belum memiliki sistem formal untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menangani risiko. Hal ini menyebabkan penanganan risiko bersifat reaktif, bukan preventif.
BAB II
SOLUSI DAN TARGET
LUARAN KEGIATAN
Berdasarkan data yang diperoleh, Martabak Pecenongan memiliki
permasalahan yaitu dari sisi
operasional, mereka mengalami
risiko yang berkaitan dengan ketergantungan pada tenaga kerja,
di mana ketidakhadiran atau pengunduran diri mendadak dapat mengganggu aktivitas
produksi. Untuk mengatasi hal
ini, mereka menerapkan sistem shift, rolling kerja, serta melatih karyawan agar
mampu menjalankan lebih dari satu tugas. Dalam hal pemasaran, mereka menghadapi
tantangan mengikuti tren kuliner yang cepat berubah, sehingga berinovasi dengan
menambahkan varian rasa baru, membuat paket martabak mini untuk anak-anak, dan
aktif mempromosikan produk melalui media sosial.
Dari aspek hukum dan regulasi,
mereka telah memenuhi
persyaratan seperti Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK), sertifikat laik hygiene, dan izin lingkungan, serta rutin memperbarui dokumen legal dan
mengikuti peraturan pemerintah. Risiko teknologi juga menjadi perhatian,
terutama terkait gangguan sistem pada aplikasi pemesanan online, yang mereka
atasi dengan pencatatan manual sebagai cadangan dan bekerja sama dengan
penyedia aplikasi yang responsif. Selain itu, mereka menghadapi risiko
lingkungan akibat sistem drainase yang kurang baik sehingga lokasi usaha
berpotensi tergenang saat hujan deras. Sebagai langkah mitigasi, mereka memilih
tidak berjualan saat cuaca ekstrem, menyimpan peralatan penting di tempat lebih
tinggi, dan mempertimbangkan asuransi usaha. Secara keseluruhan, Martabak
Pecenongan 78 telah menunjukkan komitmen kuat dalam mengelola risiko dan
menjaga keberlanjutan usahanya melalui berbagai strategi adaptif dan inovatif.
Target luaran
dari kegiatan PKM ini yakni:
1.
Analisis manajemen risiko
yang terunggah di Blog
2.
Laporan Pengabdian Kepada
Masyarakat
3.
Dokumentasi kegiatan
2.1. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan dalam program pengabdian masyarakat ini adalah melakukan kegiatan wawancara
guna menganalisis manajemen risiko dari UMKM Martabak Pecenongan 78 dengan memberikan
beberapa pertanyaan.
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Tahapan pelaksanaan
Sebelum
melaksanaan PKM, kami melakukan observasi
UMKM dengan mengobservasi
berapa karyawan dalam yang bekerja untuk kebutuhan menganalisis kemungkinan risiko, dan jika UMKM mengizinkan tim, UMKM memberikan izin kepada kami untuk melakukan kegiatan
analisis dan wawancara.
Setelah
kami memutuskan untuk
memilih Martabak Pecenongan 78 untuk kegiatan
projek mata kuliah manajemen risiko, kami mengobservasi ke UMKM dan
bertemu dengan pemilik dari UMKM tersebut. Setelah kami berbincang maksud dan
tujuan kami ingin melakukan wawancara di Martabak Pecenongan 78, pemilik UMKM
mengizinkan untuk diadakannya wawancara.
Pada
tanggal 9 Mei 2025 pada pukul 16.30-17.30 di Martabak Pecenongan dilaksanakan kegiatan wawancara dengan memberikan beberapa
pertanyaan terkait manajemen risiko. Tim
melakukan pengenalan beberapa
anggota tim PKM, kemudian melakukan wawancara tersebut dengan memberikan beberapa
pertanyaan yaitu :
1. Bagaimana UMKM mengatasi gangguan operasional jika karyawan kunci tidak masuk atau resign secara tiba-tiba?
2. Apa strategi UMKM jika permintaan produk tiba-tiba menurun karena tren pasar berubah?
3. Apakah seluruh izin usaha dan kepatuhan terhadap regulasi pemerintah telah dipenuhi oleh UMKM?
4. Bagaimana
UMKM mengantisipasi risiko jika sistem kasir atau aplikasi marketplace
mengalami gangguan teknis?
5. Apakah lokasi UMKM rentan terhadap bencana alam seperti banjir, dan apa upaya mitigasinya?
3.2
Rincian Kegiatan Kunjungan
Adapun rincian kegiatan kunjungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Rincian Kegiatan PKM
|
No |
Kegiatan |
Waktu Pelaksanaan |
|
1. |
Observasi UMKM |
6 Mei 2025 |
|
2. |
Wawancara |
9 Mei 2025 |
|
3. |
Penyusunan Luaran
Kegiatan dan Laporan Akhir |
11 Mei 2025 |
3.3
Kontribusi Mitra Terhadap Kegiatan
Dalam kegiatan ini, Martabak Pecenongan
78 menunjukkan partisipasi yang aktif dan kooperatif. Mitra secara antusias
mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari proses wawancara awal, diskusi mendalam
mengenai kondisi usaha,
hingga keterlibatan dalam
proses identifikasi dan analisis risiko. Pemilik usaha beserta tim
operasional memberikan informasi yang terbuka dan jujur mengenai
tantangan yang dihadapi
dalam pengelolaan bisnis
sehari-hari, sehingga sangat membantu dalam memperoleh data yang akurat
dan relevan.
Selain itu, mitra juga memberikan masukan dan tanggapan yang konstruktif selama sesi konsultasi dan pelatihan, serta menunjukkan kemauan besar untuk belajar dan menerapkan konsep manajemen risiko yang disampaikan oleh tim pengabdian. Keterlibatan aktif mitra dalam diskusi dan simulasi studi kasus menunjukkan komitmen mereka dalam meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan usaha.
Kontribusi yang diberikan oleh Martabak Pecenongan 78 tidak hanya memperlancar jalannya kegiatan pengabdian, tetapi juga memperkaya dinamika pelaksanaan program dengan insight lapangan yang nyata dan aplikatif. Kehadiran mitra sebagai subjek sekaligus mitra belajar menjadikan kegiatan ini berjalan secara partisipatif dan bernilai praktis tinggi.
BAB IV
4.1
Luaran dari kegiatan PKM ini adalah sebagai
berikut :
1. Analisis manajemen risiko
yang terunggah di Blog
Luaran dari kegiatan ini adalah publikasi pada Blog. Saat ini analisis sudah diselesaikan dan sudah di publish. Berikut link blog nya https://noteopedia.blogspot.com/2025/05/pengabdian-kepada-masyrakat-analisis.html
2. Dokumentasi Kegiatan
Video
kegiatan PKM telah diupload di Instagram,
dengan link sebagai berikut : https://www.instagram.com/reel/DJvzMdfy68K/?igsh=MW4wMW9renluNm44NA==
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Martabak Pecenongan 78 bukan sekadar
bisnis kuliner biasa di Bandar Lampung. Berada di lokasi strategis Jalan Z.A. Pagar Alam, gerai ini menjadi favorit
warga lokal maupun
pendatang berkat martabak
manis kekinian dan martabak telur yang autentik. Aroma lezat yang menggoda dan
antrean panjang setiap malam menunjukkan popularitasnya yang tinggi.
Namun
di balik kesuksesan itu, usaha ini menghadapi tantangan
khas UMKM, seperti
perubahan pasar, persaingan harga, dan ekspektasi pelanggan yang
meningkat. Proses produksi yang masih manual
serta pasokan bahan
baku yang tidak
stabil memperbesar risiko
operasional. Selain itu, tuntutan
digitalisasi seperti layanan pesan-antar online menambah kompleksitas usaha,
mulai dari pencatatan pesanan hingga menjaga kualitas produk saat pengiriman.
Perubahan regulasi dan faktor eksternal
lain juga menjadi ancaman. Oleh karena itu, Martabak Pecenongan 78 perlu strategi
pengendalian risiko yang tepat agar bisnis tetap bertahan dan kompetitif.
Identifikasi risiko serta perencanaan mitigasi
menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan dan reputasi usaha
ini di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat.
5.1
Resiko Operasional
Dalam operasional harian, Martabak
Pecenongan 78 sangat bergantung pada kehadiran karyawan seperti juru masak dan
kasir, bila terjadi ketidakhadiran mendadak atau bahkan pengunduran diri secara
tiba-tiba, kegiatan produksi dan pelayanan bisa terganggu secara serius.
Untuk
mencegah hal ini terjadi, umkm telah menerapkan sistem shift dan rolling kerja yang
dimana karyawan dijadwalkan secara bergantian dan dilatih untuk melakukan lebih
dari satu pekerjaan. Dengan begitu, jika salah satu karyawan tidak hadir posisi
tersebut dapat segera diisi oleh personel lain yang terbiasa menjalankan peran
serupa. Strategi ini memungkinkan proses berjalan lancar meskipun terjadi
gangguan SDM tiba-tiba.
5.2
Resiko Pemasaran dan Penjualan
Selera pasar yang dinamis adalah
tantangan tersendiri. Bagaimana jika suatu saat tren makanan beralih ke produk
lain dan permintaan martabak menurun ?
Yang dimana Martabak Pecenongan 78 harus
siap dengan strategi pemasaran yang adaptif. Stategi yang dipakai adalah dengan
inovasi menu, misalnya dengan menambhakan rasa baru ke menu atau membuat paket martabak mini yang ditujan
untuk anak-anak serta promosi media sosial
untuk mempertahankan perhatian pelanggan online terhadap olahan kami.
5.3
Risiko Hukum dan Regulasi
Kepatuhan terhadap peraturan pemerintah
sangat penting saat menjalankan bisnis. Apakah Martabak Pecenongan 78 telah
memenuhi semua persyaratan izin usaha serta apakah sudah mematuhi peraturan
yang berkaitan dengan bkebersihan pangan, keamanan kerja, dan standar kesehatan
?
Martabak Pecenongan 78 secara aktif
memastikan abhwa semua izin bisnis mulai dari izin usaha mikro kecil (IUMK),
sertifikat laik hygiene, hingga izin lingkungan terpenuhi. Selain itu sesuai
dengan peraturan yang berlaku, standar kebersihan pangan yang berlaku, dan
kesehatan operasional telah menjadi prioritas utama.
Sebagai
bentuk pengendalian risiko
hukum, Pemilik usaha melakukan pembaruan dokumen mereka secara teratur dan mematuhi peraturan terbaru
yang dikeluarkan oleh dinas terkait. Martabak Pecenongan 78 membangun reputasi
sebagai bisnis yang profesional dan bertanggung jawab di mata konsumen dan
otoritas dengan memastikan bahwa semua kewajiban legal telah dipenuhi.
5.4
Risiko Teknologi dan Informasi
Di era digital, Martabak Pecenongan 78
juga mulai memanfaatkan aplikasi pemesanan online dan marketplace untuk
memperluas jangkauan. Namun, apa yang terjadi jika sistem kasir error atau
aplikasi marketplace mengalami gangguan teknis?
Untuk mengantisipasi hal ini, penting untuk memiliki backup manual, seperti mencatat transaksi secara tertulis jika sistem digital bermasalah. Bekerja sama dengan penyedia aplikasi yang memiliki layanan customer support responsif juga akan meminimalkan waktu downtime jika terjadi masalah teknis.
5.5
Risiko Lingkungan dan Sosial
Lokasi usaha di Jalan Z.A. Pagar Alam
memang strategis, tetapi apakah lokasi ini rentan terhadap risiko banjir atau
bencana alam lainnya? Jika iya, apa langkah mitigasi yang sudah dilakukan?
Lokasi bisnis dapat tergenang jika curah hujan tinggi dan saluran drainase sekitar tidak dapat menampung aliran air. Dalam situasi seperti ini, Martabak Pecenongan 78 secara sadar memilih untuk tidak berjualan. Hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan karyawan, mencegah kerusakan peralatan, dan menjaga kualitas bahan makanan agar tidak tercemar oleh lingkungan yang tidak higienis.
Meskipun pemasukan harian akan terpengaruh oleh ketidakberoperasian saat banjir, keputusan ini merupakan cara yang rasional dan bertanggung jawab untuk mengendalikan risiko. Peralatan penting telah ditempatkan di tempat yang lebih tinggi untuk mencegah kerusakan saat air naik. Pemilik usaha juga mempertimbangkan untuk memiliki asuransi usaha untuk mengurangi kerugian karena musibah.
Melalui analisis menyeluruh terhadap berbagai risiko ini, Martabak Pecenongan 78 dapat memperkuat fondasi bisnisnya untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan. Usaha kuliner bukan hanya tentang rasa dan pelayanan tetapi juga managemen harus strategi yang matang untuk mengantisipasi setiap tantangan. Martabak Pecenongan 78 diharapkan terus menjadi ikon kuliner kebanggaan Bandar Lampung yang lezat dan tangguh menghadapi perubahan berkat kesiapan menghadapi risiko.
BAB VI
MANFAAT YANG DI PEROLEH
6.1
Dampak Analisis Resiko Pada UMKM
Analisis risiko yang dilakukan pada UMKM
Martabak Pecenongan 78 memberikan manfaat yang sangat besar dalam menciptakan
sistem pengelolaan usaha yang lebih adaptif dan tangguh. Dengan pemetaan risiko secara menyeluruh baik dari aspek operasional, pemasaran, hukum dan regulasi,
teknologi, maupun lingkungan. UMKM dapat memahami potensi
ancaman yang mungkin
terjadi di masa depan. Hal ini
memungkinkan mereka untuk
menyusun strategi mitigasi
yang tidak hanya
reaktif, tetapi juga preventif.
Salah satu dampak nyata adalah peningkatan efisiensi kerja, karena proses
operasional menjadi lebih terstruktur dan terstandarisasi.
Selain itu, analisis risiko ini
mendorong peningkatan kesadaran akan pentingnya inovasi produk dan pelayanan,
agar tetap relevan di tengah persaingan pasar yang ketat. UMKM juga mulai
memperhatikan perlunya digitalisasi dan legalitas usaha sebagai langkah untuk
meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pasar. Dari sisi
keuangan, pengelolaan risiko juga membantu meminimalisir kerugian dan menjaga
stabilitas pendapatan. Secara keseluruhan, proses ini berkontribusi pada
peningkatan kualitas manajemen usaha dan kesiapan dalam menghadapi situasi
darurat atau krisis.
6.2
Kontribusi Mitra Terhadap Pelaksanaan
Kontribusi mitra, yaitu pemilik dan
pengelola Martabak Pecenongan 78, sangat penting dalam keberhasilan pelaksanaan
program ini. Mitra menunjukkan keterbukaan yang tinggi dalam membagikan
informasi terkait kondisi
internal usaha, termasuk
kendala-kendala yang dihadapi
sehari-hari. Mereka juga bersedia mengikuti tahapan analisis
risiko secara aktif, mulai dari proses wawancara, observasi lapangan, hingga
implementasi strategi mitigasi yang disarankan oleh tim pendamping.
Selain itu, mitra menunjukkan antusiasme dalam
menerima masukan serta melakukan perbaikan dalam berbagai aspek, seperti
peningkatan kualitas produk, pengelolaan sumber daya manusia, dan penggunaan
media digital sebagai alat promosi dan penjualan. Keterlibatan langsung ini
mencerminkan keseriusan mitra dalam mengembangkan usahanya ke arah yang lebih
profesional dan berkelanjutan. Mereka juga mendukung penuh kegiatan pelatihan
dan pendampingan yang diberikan, serta berinisiatif menerapkan inovasi baru
sebagai tindak lanjut dari hasil evaluasi risiko. Komitmen dan kolaborasi aktif
dari mitra menjadi kunci dalam tercapainya tujuan program, yaitu menciptakan UMKM yang lebih tangguh,
adaptif, dan siap bersaing.
BAB VII
FAKTOR PENGHAMBAT, FAKTOR PENDUKUNG DAN TINDAK LANJUT
7.1
Faktor yang Menghambat/Kendala
Dalam pelaksanaan program analisis risiko, terdapat beberapa faktor yang menjadi kendala. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan waktu dari pihak mitra, yang menyebabkan proses pengumpulan data dan implementasi strategi mitigasi harus menyesuaikan dengan jadwal operasional usaha. Selain itu, keterbatasan pemahaman awal tentang manajemen risiko membuat proses awal pendampingan memerlukan penjelasan dan pendekatan yang lebih intensif.
7.2
Faktor yang Mendukung
Meskipun terdapat berbagai kendala,
keberhasilan program ini juga ditopang
oleh beberapa faktor pendukung
yang signifikan. Faktor
utama adalah komitmen
dan keterbukaan pemilik
usaha dalam menerima masukan serta kesediaan untuk beradaptasi dengan
strategi baru. Lingkungan kerja yang kondusif dan adanya rasa ingin berkembang
dari tim internal UMKM turut mempercepat proses implementasi. Dukungan
teknologi digital, seperti penggunaan media sosial dan aplikasi pemesanan
online, juga menjadi alat bantu penting dalam strategi pemasaran dan pencatatan
transaksi. Selain itu, keterlibatan aktif tim pendamping serta pendekatan yang
komunikatif dan solutif memperkuat kerja sama antara mitra dan pendamping
selama proses berlangsung.
7.3
Solusi dan Tindak Lanjutnya
Untuk mengatasi kendala yang ada, solusi
yang diterapkan antara lain adalah penyusunan jadwal pendampingan yang
fleksibel dan tidak mengganggu operasional usaha, serta penyederhanaan materi
pelatihan agar mudah dipahami oleh pelaku UMKM. Dalam jangka panjang, tindak
lanjut yang akan dilakukan meliputi pelatihan lanjutan terkait manajemen
risiko, pengembangan kapasitas sumber daya manusia
melalui workshop singkat,
serta penerapan sistem evaluasi rutin untuk menilai
efektivitas strategi mitigasi. Selain itu, UMKM didorong
untuk terus melakukan inovasi
produk dan memperkuat branding melalui media
digital agar tetap kompetitif.
BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian, dapat disimpulkan bahwa Martabak Pecenongan 78 sebagai salah satu pelaku UMKM di sektor
kuliner telah menghadapi berbagai risiko usaha yang bersifat operasional,
pemasaran, hukum dan regulasi, teknologi informasi, serta lingkungan. Meskipun
usaha ini dikenal luas dan memiliki pelanggan yang loyal, tetap diperlukan
pendekatan manajemen risiko yang sistematis untuk menjaga kelangsungan bisnisnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa
sebagian besar risiko telah dikenali oleh pihak pengelola, namun belum
seluruhnya ditangani secara strategis dan terdokumentasi. Melalui kegiatan ini,
telah dilakukan pemetaan risiko dan disusun strategi mitigasi yang relevan dan
aplikatif, seperti rotasi
kerja untuk mengatasi risiko karyawan, inovasi
produk untuk merespons dinamika pasar, pencatatan manual untuk risiko sistem digital,
hingga antisipasi terhadap
risiko banjir.
Kegiatan ini memberikan dampak positif
berupa peningkatan kesadaran pemilik usaha terhadap pentingnya pengelolaan
risiko, serta adanya komitmen untuk mengimplementasikan strategi yang telah disepakati. Dengan demikian, Martabak
Pecenongan 78 diharapkan menjadi usaha yang lebih adaptif dan tangguh dalam menghadapi
ketidakpastian serta tetap kompetitif di tengah persaingan pasar kuliner yang
semakin dinamis.
8.1 Saran
1. Penerapan Sistem Manajemen
Risiko Secara Formal
Martabak Pecenongan 78 disarankan mulai membangun sistem
manajemen risiko yang terdokumentasi, agar proses
identifikasi dan mitigasi
risiko dapat dijalankan secara konsisten dan
terukur, tidak hanya berdasarkan intuisi semata.
2. Pelatihan dan Pengembangan SDM
Disarankan untuk melakukan pelatihan berkala bagi karyawan
dalam hal manajemen risiko operasional, penggunaan teknologi, dan pelayanan pelanggan, agar risiko akibat human error bisa diminimalkan.
3. Pemanfaatan Teknologi
Digital Secara Optimal
Mengingat tren digitalisasi, Martabak Pecenongan 78 diharapkan meningkatkan penggunaan teknologi untuk pencatatan transaksi, pengelolaan stok, dan pemasaran digital, termasukbackup sistem dan integrasi layanan online.
4. Evaluasi Berkala
terhadap Risiko Usaha
Diperlukan evaluasi rutin terhadap kondisi internal dan
eksternal usaha untuk mengidentifikasi risiko baru yang mungkin muncul seiring
perubahan pasar, regulasi, atau kondisi lingkungan.
5. Perluasan Kerja Sama dengan Institusi Pendidikan dan Pemerintah
Agar upaya penguatan UMKM dapat berjalan berkelanjutan,
Martabak Pecenongan 78 disarankan menjalin kerja sama dengan pihak eksternal,
baik akademisi maupun pemerintah daerah, untuk mendapatkan pelatihan, bantuan legalitas,
serta dukungan promosi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar